Kamis, 30 Oktober 2014

PAGUYUBAN KEHIDUPAN WARGA MASARAKAT BANJAR PATROMAN



PLANOLOGIS KOTA BANJAR PATROMAN
KOTA BANJAR PATROMAN DAN CITANDUY, Merupakan “Loro-Loro Ning Atunggal”. Bagaikan Dua sejoli yg tak terpisahkan. Kalau kita menyebut Citanduy, maka asosiasi kita langsung pada kota Banjar Patroman.
MEMANG, menurut “Tiori Lokasi” hampir semua kota yg lahir dan tumbuh secara organis akan memilih di tepi sungai, tepi pantai, dekat mata air, atau pada titik pertemuan jalan, yang disebut simpul dan atau “Nodal”. Nodal adalah titik awal pertumbuhan suatu wilayah, dimana di situ memusat (agolomerasi) aneka kegiatan sosial dan ekonomi.
KOTA BANJAR PATROMAN, Awal pertumbuhannya dari beberapa perkampungan tepian sungai Citanduy, dan adanya nodal atau simpul jalan (misalnya pertigaan Parungsari, Viadeuk, atau perapatan di: Alun2, Garuda, Soponyono, Suhyar, Pasar, Pasar Langensari dll).| Tempo Doeloe di setiap tepian sungai Citanduy tumbuh dan berkembang beberapa perkampungan seiring dgn “multi guna/fungsi” sungai Citanduy, (transportasi, sumber kehidupan, dan ekologi lingkungan).
SEKARANG CITANDUY jadi bagian belakang rumah, bagian belakang gedung megah suatu perkantoran atau suatu gedung fasilitas umum. CITANDUY beranda halaman belakang, shg pd suatu saat Kota Bjr sdh tumbuh besar, padat, dan kumuh yg tdk terkendali, maka Citanduy kemungkinan besar jadi semacam “solokan paciringan”, yakni tempat menampungan berbagai buangan limbah dari sisa2 atau residu kegiatan warga kota Bjr.. (amit-amit.. jangan akh.!). SEMOGA SAJA hal ini jangan terjadi, dan Bjr Patroman dgn Citanduy-nya hrs tetap ada pd slogan serta motto karuhun kita: “loro-loro ning atunggal” Dua sejoli yg tidak dapat dipisahkan.
{(Tulisan ini dari ungkapan dan renungan dari salah satu pelajar siswa SMUN 1 Banjar 2008, yg tinggal di Cikabuyutan Barat Bjr Patroman)},

Tidak ada komentar:

Posting Komentar